Ketika senja hinggap di pelupuk mata, aku menari di tengah kota.
Mengisah pada matahari, tentang rindu yang tak jua pergi.
Ketika senja mulai menggelap, aku tertegun menatap hitam.
Mengulas senyum pahit di antara derai air mata.
Kala senja bukan lagi malam, aku melangkah hingga menyambut fajar.
Ku uraikan sekilas cerita tentang senja yang masih saja mengusik.
Namun fajar kini menemani hingga tak ada lagi senja.
Senja – oleh Dibi Rahmi
Kediri
Waktu kan terus berputar
Dan takkan pernah menunggu
Setiap detiknya takkan terulang
Takkan mungkin kembali
Pada masa lalu
Samar-samar akan terlihat
Masa yang akan datang
Ku perhatikan dengan seksama
Dan seakan waktu terhenti
Namun seketika itu jua
Terbesitlah rangkaian masa lalu
Yang hanya dapat kurenungkan
Dan tak mungkin tukku kembali
Meskipun waktu terus berjalan
Bagiku semua hanya ilusi
Diriku masih terjebak
Dalam ruang hampa
Tanpa adanya warna
Hari-hari yang kulalui
Hanya berupa hitam dan putih
Kembalilah kasih
Jalankan waktu dan kembalikan
Warna pada hidupku
Kembalilah – oleh Rizqi Yuliarta
Sintang
Mungkin karna kesalahan ku waktu itu
Kau sekarang benar menggap aku tak ada
Kau telah hapus sepenuh nya semua tentang kita
Dimana semua terasa manis pda kala itu
Mengapa harus terjadi dengan penuh
Kesakitan yang sangat dalam di hati ini
Mengapa kita tidak seterus nya selalu
Bersama, dengan kesetian yang kita jaga
Tak semestinya kau begini kepadaku
Kau meminntaku untuk tidak menjauhi mu
Tapi mengapa malah kau lah yang menjauhi ku
Sungguh aku tak mengerti dengan pikiran mu
Aku memang salah dengan sikap buruk ku ini
Namun itu dulu …
Tolonglah lihat aku yg sekarang ini
Cobalah lihat sedikit lebih dalam tentangku
Bukan aku yg dulu, namun lihatlah
Aku berusaha untuk mengejarmu lagi
Untuk berada di sampingu mu lagi
Berilah aku ini…
Harapan kebahagiaan bukan ketidakpastian
Sekali lagi…
Hanya sekali lagi aku ingin merasakan
Semua perhatian mu tak terbagi dengan lain nya
Cobalah untuk memulai nya dari awal dengan ku
Pasti akan aku perbaiki semua kesalahan ku dulu
Namun jika tidak mungkin untuk kau lakukan
Berilah saya kematian di hati ini
Tolonglah mengerti – oleh Mochammad Sani
Bandung
Jeritan hati.
Oleh Dayuni agustina.humendru.
Pagi yang cerah tak mendukung hatiku
semua serasa kelam bagiku
karena yang ku rasakan
kalbu ini menjerit kesakitan
Aku tau ini bukan sewajarnya
Tapi aku belum mampu ntuk membuangnya
Aku coba menghilangkannya
Perlahan saja kumampunya
Aku lelah ingin menyerah
Aku bosan ingin lari saja
Aku menangis air mata kering sudah
Aku teriak tapi hati tak lega jua
Teganya engkau perasaan
Menghukum kalbu lemahku
Tunggu saja suatu saat nanti
Aku lebih menang darimu
Aku kan bangkit meninggalkanmu
Menjauhimu,juga menghindarimu
Jeritan Hati – oleh Dayuni Agustina Humendru
Kepenuhan sejati
TUHAN…
Mungkin inilah jalan yang terbaik untukku saat ini…
Ku tau ini adalah takdir yang harus ku terima …
Ku sekarang mengerti apa arti semua ini….
Terima kasih TUHAN…
Telah membuat ia bahagia…
Walau bukan bahagia karna aku..
TUHAN….
Ku yakin pasti kau akan membuatku bahagia
bersama someone yang kau pilih untukku..
ku yakin akan hal itu
TUHAN….
Ku yakin kau kan mengabulkan semua hal itu,
Walau entah kapan..
tapi kau tak pernah tidur..
Kau selalu mendengar semua itu..
Tuhan..
Ku memang tak bisa melupakanny..
Ku juga tak bisa menjauh darinya…
Tapi ku kan berusaha tuk melupakan dirinya…
menerima apa adanya…
dan menjalani hidup seperti biasa..
sampai ku mendapatkan penggantinya,…
Keyakinanku – oleh Diyan Fitrianti
Jakarta
Saat semua terasa membahagiakan..
Oleh hadirmu yang tak pernah terasa beku
Satu hal yang telah aku sadari
Aku terlanjur mencintaimu
Namun meski kucoba menghentikan aliran sungai yang bermuara kedasar samudera
Aku tetaplah cahaya yang redup terabaikan
Bukan cahaya terang yang menyilaukan
Yang mampu menerangimu dengan kehangatan
Tiada kuasa diriku selain menitikkan air mata dari seulas senyum palsu
Haruskah??aku pergi menjauh??
Menghentikan untaian cerita dari sekian lamanya
Menghapus semua memory yang terlihat adanya
Aku benci…
Mengingat ada cinta dalam khayal
Melihat ada dusta dalam kata yang tak terhitung berapa
Biarkan..
Bila aku benar-benar berhenti
Untuk mengenal cinta yang kutau takkan pasti
Dan berakhir,cukup sampai disini
Terlanjur Cinta – oleh Mosdalifah
Sepudi, Sumenep
Kau datang bersama hujan yg mnderu2….
Terdiam,terkesiap dilorong waktu……
Dengan tatapan kosong sembari membisu….
menyangkal bahwa ini hanya hayalanmu….
Acuhkan tatapan belasan pasang mata….
Kau tetap melangkah tujukan pada dirinya…
Kau mulai tersenyum bahagia seakan tak percaya..
Tapi itu benar-benar nyata….
Tatapanmu berubah,menenangkan…..
Mungkin kau bergumam,ini adalah kesempatan…
Kesempatan yang sama yang sempat terlewatkan….
Dan hari ini,jangan sampai harapan tak tersampaikan..
Kau terburu2 melangkah maju….
Dalam balutan sang banyu..
Kau tersenyum tersipu…
takkan pernah menyangka bahwa kau dan dirinya bertemu…..
Pertemuan dengannya – oleh Mosdalifah
Disini kau dan aku terbiasa bertemu…..
Menjalani cinta bahagiaku denganmu….
Agar ku dapat merasakan Kehadiranmu…..
Yang hangat dihatiku…
Betapa sayangnya aku padamu…
Betapa cintanya aku padamu…
Kau adalah belahan jiwaku…
Tak seorangpun dapat merenggut hal itu..
Dalam hati ku salalu ingin bersamamu…
Tanpa kehadiranmu pasti ku tak dapat mengenal cintamu…
Sungguh besar rasa cintaku padamu…
Ku percaya bahwa cinta kita kan abadi selalu….
Cintaku Padamu – oleh Diyan Fitrianti
Jakarta
Waktu kan terus berputar
Dan takkan pernah menunggu
Setiap detiknya takkan terulang
Takkan mungkin kembali
Pada masa lalu
Samar-samar akan terlihat
Masa yang akan datang
Ku perhatikan dengan seksama
Dan seakan waktu terhenti
Namun seketika itu jua
Terbesitlah rangkaian masa lalu
Yang hanya dapat kurenungkan
Dan tak mungkin tukku kembali
Meskipun waktu terus berjalan
Bagiku semua hanya ilusi
Diriku masih terjebak
Dalam ruang hampa
Tanpa adanya warna
Hari-hari yang kulalui
Hanya berupa hitam dan putih
Kembalilah kasih
Jalankan waktu dan kembalikan
Warna pada hidupku
Kembalilah – oleh Rizqi Yuliarta
Sintang
Biarkan aku sendiri
Termangu dibawah jingga mencakar langit
Dengan segenap rasa yang tertoreh
Tak ingin lagi menggenggam asa sekuat jiwa
Biarkan saja semua terlepas
Hingga hilang menembus langit
Tak sekali atau dua kali
kebekuan meredam keadaan
Diantara sayap-sayap yang meradang
Satu patah dan terkulai lemas
Oh jiwa..
Lagi dan lagi kau hilang
Diantara langit-langit senja
Tak bisa kuhalau pergimu
Sekalipun menyingkap ke tujuh langit
Kubiarkan kau hilang
Terbawa sayap mungilmu
Melepas segalanya yang tersisa
Kubiarkan kau hilang
Dibalik senja yang tertutup awan
Bersama gejolak dijiwamu
Hilang – oleh Mosdalifah
Sepudi, Sumenep.
Asa tertusuk tajamnya harum
Fana saat kata kosong dalam senyum
Rasa cinta membohongi logika
Arti diri terbakar ketika
Jiwa rasa mati dalam indahnya
Erangan hati mulai bertanya
Luapan kata tak terbatas berkelahi
Impian harapan terbakar janji
Tetesan kisah teringat perih
Aliran darah membendung pedih
Pergilah…!
Inikah arti kata kecewa??
Kecewa – oleh Mochammad Ikhsan Eldhani
Jakarta
Saat aku termenung sendiri….
Ku berbisik dalam hati….
Andaikan Cinta Itu Masih Ada…
Biarkan Aku Bertahan Sejenak..
Mencintaimu Dalam Diam….
Dalam Waktu Yang Tak Lagi Lama…..
Dalam Rindu Yang Tak Ku kenal Lagi…..
Dari kejauhan Ku Lihat Senyuman itu….
Ku harap tak ada Dusta lagi…
Aku Beruntung Tlah Mengenalmu…
Pernah Jadi Bagian Hidupmu…
Dan Sekarang Menjadi Masalalumu…
Cukup Terkenang Dalam Diam…
Dalam Masa Lalu….
Dan Kini Ku Harus Bangkit….
Dengan Hidupku yang baru…
Hanya Ada Kamu & Aku
Dalam Diam – oleh Retno Lianawati
Lumbir
Dibalik bukit itu..
Kau dan aku
Akan memulai cerita,
Diawali dari
Tanah tandus
Yang kelak kita rawat
Sanpai selayak firdaus..
Wahai juwita..
Berapa untai bunga
Yang barus aku tebuskan
Sebagai pengganti
Semyummu..?
Yang sungguh
Jelas betapa
Melebihi keolakan
Mekar mekar bunga setaman…
Setaman bunga – oleh Zaky Arya Kusuma
Pati
tak seperti air mengalir
gemericik terdengar suaranya..
tak seperti sepoi angin
berhembus damaikan suasana..
lantang hatiku menjerit
tak ada satu telingapun mendengar..
keluh kesah..
sesal..
bahagia..
hanya aku yg menyangga..
berat memikul beban ini..
pada siapa ingin berbagi..
kalian yg ku sayang..
tak akan pernah ku berikan..
hanya ingin ku sembahkan..
sejuta bahagia tanpa air mata..
akupun ingin seperti embun,
menunggu fajar cairkan beku..
aku ingin seperti kumbang,
yg di tunggu bunga tuk memekarkannya..
setelah tersadar..
ini hanya angan angan..
cukup menjadi mimpi..
bukalah mata, lihat dunia !
yg kejam dan siap menyerang..
aku takut..
aku bimbang..
melangkah kaki..
tuk mencari jati diri..
karena ku hanya sebagian tulang rusuk yg hilang..
tak ada yg mencari..
sepi
sendiri
tapi tak apa..
sepertinya telah terbiasa..
inilah aku..
hanya menunggu..
seorang yg mencariku..
dan ia yg akan mengutuhkan tulang rusuknya..
dia lah jodohku…
Rasaku – oleh Yana Nuryani
Indramayu
Siputri Nana
Cinta akan terasa bahagia bila dua insan saling bersatu.
Cinta akan terasa sakit bila dua insan saling berpisah.
Tapi apakah cinta yang terasa bahagia dan sakit itu.
Untuk selamanya….
Aku rasa tidak…
sebab cinta akan datang dan pergi.
Kecuali jika adanya cinta sejati.
yang akan selalu bersama sampai maut memisahkan mereka.
Apalah arti cinta….
Bila ia datang hanya sesaat.
Pergi jika ia merasa bosan.
Dan mungkin memiliki cinta yang baru.
Apalah Arti Cinta – oleh Siti Palilah
Serang
Aku merindukan genggaman itu
Yang menguatkan saat diri tak lagi mampu
Membawa keteduhan dalam pikiran yang sedu
Mendatangkan rasa yakin kala hati dilanda ragu
Rasa cinta ini hanya dapat aku simpan
Hanya dengan setetes pena aku torehkan
Dengan selembar kertas aku ceritakan
Tak perlu lagi mulut ini mengungkapkan
Harapan bersamamu kini tlah sirna
Kenangan dan diriku kini tinggal bersama
Tak ada lagi canda tawa saat berdua
Hanya air mata yang mampu berbicara
Tak perlu lagi disesali
Biarkan hati melangkah bersama ironi
Biarkan perasaanku tetap kekal dan abadi
Walau dirimu tak pernah ku miliki
Takkan Ada Lagi – oleh Nia Rahmanti
SMK Negeri 1 Bulukerto
fb: Nia Rahmanti
Embun masih suka pada dedaun
Seperti rasaku padamu
Ia tak peduli meski di jeruji bumi
Begitu pun aku
Tak peduli meski banyak lelaki
Mungkin dedaun tak tahu
Karena embun menangis tak terlihat
Seperti dirimu yang tak tahu
Betapa cintaku tak terlihat
Belum lagi waktunya malam
Begitu mudah dedaun menolak embun
Belum lagi rasakan cinta
Begitu mudahkah kau menolakku?
Aku takut aku takut
Seperti embun
Menggebu kian bergumam
Biar saja cinta terpendam
Seperti Embun – oleh Sindi Violinda
(Pernah dimuat di Majalah Nouvalitera edisi 3, 2014)
Medan
Ketika senja hinggap di pelupuk mata, aku menari di tengah kota.
Mengisah pada matahari, tentang rindu yang tak jua pergi.
Ketika senja mulai menggelap, aku tertegun menatap hitam.
Mengulas senyum pahit di antara derai air mata.
Kala senja bukan lagi malam, aku melangkah hingga menyambut fajar.
Ku uraikan sekilas cerita tentang senja yang masih saja mengusik.
Namun fajar kini menemani hingga tak ada lagi senja.
Kau pikir siapa kau
Sebentar berkata sayang pada ku
Kemudian mengusir aku pergi
Semudah itu kau tarik ulur hati ku
Bak sebuah layangan yang sedang dimainkan
Kau pikir siapa kau
Menyuruh ku pergi dari mu
Namun memintaku untuk tetap tinggalkan senyuman
Aku tegaskan pada mu
Semua dari ku akan tetap ada
Namun tak sama lagi seperti dulu
Senyum dan canda dari ku
Hanya akan menjadi sebuah penghias semata di depan yang lain
Tak usah lagi kau bersedih saat ku terluka
Tak usah kau memandang ku bila kita bersua
Aku hanya akan mengikuti mau mu
Aku tinggal dan pergi hanya atas kemauan mu
Karena bagi mu hati ku bak sebuah layangan

About

blogger anak tansa